BH untuk Kanker Payudara

  • bh-untuk-kanker-payudara

Betapa putus asanya wanita yang terdiaknosis dan kemudian menjalani operasi kanker payudara tercermin dari berbagai testimoni para pasien kanker payudara diberbagai acara. itu sebab berbagai kelompok pendukung kanker payudara pun bermunculan dengan berbagai nama.

Ada Breast Cancer Survivor Network, ada klub Peduli Kanker Payudara, ada Jakarta Breast Cancer hingga Breast’s Friends. “Dunia seperti berhenti berputar. Rasanya kiamat,” tutur banyak penderita diberbagai acara testimonial itu. berbagai perasaan memang berkecamuk dibenak para pasien kanker payudara. umumnya muncul perasaan tidak berguna, takut ditinggal suami kawin lagi, banyak yang kemudian ingin mati, dan lebih banyak lagi mengambil sikap menutup diri.

Selain dokter dan keluarga pasien itu sendiri, adalah Fenny yang juga sering berhadapan dengan aneka gejolak perasaan itu. Di rumahnya di kawasan Bumi Serpong Damai yang ia jadikan sebagai tempat kerja, sering datang wanita dengan wajah cemberut diantar oleh suaminya yang tak henti-hentinya membujuk agar wanita itu tidak patah semangat dan mau bersikap positif.

“BH seharga 4 juta saja tidak ada hasilnya, apalagi punya kamu yang cuma 450 ribu,” tutur Fenny menirukan salah satu tamu wanitanya yang bersuara ketus. Untung Fenny makin terbiasa dengan sikap seperti itu. Aneka perasaan yang melatarbelakangi ungkapan ketus itu benar-benar ia maklumi. “Bayangkan saya pernah menghadapi seorang ibu berusia 31 tahun yang baru diambil payudara dan rahimnya, padahal dia belum punya anak. Sebagai wanita dia mengaku benar-benar sudah tidak ada gunanya,” kisahnya tentang salah satu pelanggannya.

Seperti Sahabat

Pengalaman bekerja di restoran dan klub golf bertaraf internasional serta sebagai broker property yang memungkinkan bergaul dengan banyak orang, rupanya sangat membantu Fenny dalam menghadapi sikap-sikap yang pada awalnya tidak bersahabat dari calon pelanggannya. Fenny yang pada dasarnya ramah, bersahabat, dan meriah kalau sudah berbicara itu biasanya lantas mengajak mereka ngobrol, berbagi rasa, sambil menyelipkan pesan tentang betapa pentingnya BH bagi kesehatan payudara dan rasa percaya diri wanita. Dari situ Fenny kemudian menawarkan kerja sama dengan mereka guna membuat BH yang dirancang dan diukur secara khusus agar nyaman dikenakan oleh yang bersangkutan. Pengukuran dilakukan untuk memperoleh BH yang benar-benar sesuai dengan stuktur tubuh pemakainya.

Memang rumit dan perlu ketelitian karena ketinggian puting payudara saja, misalnya, pasti berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Belum lagi bentuk payudara itu sendiri, menurut Fenny, sedikitnya ada 21 jenis, mulai dari bentuk cranberries hingga semangka, timun hingga balon, dan bentuk tea bag (kotak teh celup) hingga ketela rambat (ubi).

“Karena payudara terdiri dari jaringan kelenjar yang hidup, BH yang tidak sesuai dengan ukuran dan bentuk payudara pemakainya akan membuat payudara berkembang tidak teratur. Bisa mleber ke mana-mana,” kata ibu dua anak kelahiran malang ini dengan logat jawa timur yang khas. Sebaliknya BH yang baik akan memberi kesempatan pada jaringan kelenjar untuk tumbuh menyatu sehingga padat berisi, bentuknya indah, dan kulitnya halus tidak kisut keriput. BH yang baik, kata Fenny, adalah seperti seorang sahabat. “Dia harus nyaman, menopang, dan melindungi,” ujuar perempuan yang mengaku namanya memang cuma sepenggal tanpa ada tambahan nama keluarga itu.

Di pasar BH memang banyak tersedia BH dengan kualitas seperti itu. Namun, seolah menanggapi ibu bersuara ketus diatas, Fenny berani menjamin, BH yang baik dan menyehatkan tidak harus selalu berharga mahal. Produksi BH yang dikerjakannya tanpa mesin (hand-made) selama sepuluh tahun ini menjadi bukti dari ucapannya.

Gara-gara Krismon (Krisis Moneter)

Usaha membuat BH itu memang dimulai sepuluh tahun lalu ketika krismon(krisis moneter) melanda Indonesia. Fenny mengaku pendapatannya sebagai broker properti tidak mencukupi lagi untuk beli BH. Menurut seorang kenalannya, Fenny memang gemar membeli BH mahal yang dinilainya memiliki khasiat kesehatan. Sayangnya karena perbedaan nilai mata uang rupiah dan dolar yang terus melebar gara-gara krismon itu, kegemaran Fenny jadi terhenti. “mau beli BH saja kok mahal,” kata Fenny ketika itu. Namun, kesulitan membeli BH malah memacu Fenny. Anak kedua dari tujuh bersaudara yang orangtuanya adalah pengusaha konveksi itu lalu mebedah BH-BH yang pernah dibelinya. BH-BH bikinan Jepang, Korea, Taiwan, dan Amerika seharga antara Rp. 4 juta hingga Rp. 6 juta itu lalu ia pelajari rahasianya mengapa oelh pembuatannya dikatakan memiliki manfaat kesehatan dan menjanjikan bentuk payudara yang kaan menjadi bagus lagi. “Ternyata ada yang dilengkapi dengan rangkaian batu mutiara segala. Mungkin maksudnya agar BH itu seperti memijat ketika dikenakan sehingga bisa melancarkan sirkulasi dara disekitar payudara,” ujar Fenny.

Rahasia lain? “Ada pula yang dilengkapidengan gel atau sinar infra merah yang bermanfaat menghaluskan kulit,” imbuhnya. Tak cukup dengan membedah BH koleksinya, Fenny juga minta kiriman literatur dari adik-adiknya yang menetap di AS, Swedia, Australia, dan Taiwan. Selama dua tahun, siang-malam, tujuh hari dalam seminggu, ia kemudian mempraktikkan teori yang ia pelajari sendiri itu.

“Di Indonesia ‘kan belum ada kursus membuat pakaian dalam,” katanya tentang kerja kerasnya membuat pola sendiri, mencari bahan sendiri, menjahit sendri, dan mencari-cari sendiri orang yang mau ia buatkan BH dengan catatan bersedia memakai bh tersebut selama kurun waktu tertentu supaya hasilnya bisa diketahui. Beruntung karena lingkungan kerja dan pergaulannya dulu, Fenny jadi banyak pula kenalan dokter. Banyak diantara dokter itu yang kemudian ia ajak kerja sama dengan mengenakan BH buatannya dan mencatat perkembangan yang terjadi dengan payudaranya. “Pokoknya waktu itu saya seperti berburu orang yang bersedia saya buatkan BH untuk percobaan. Ada Ibu-ibu sedang duduk dan payudaranya terlihat sampai ke pangkuannya, langsung saya tawari untuk saya buatkan BH,” tutur Fenny. Begitu yakin dengan hasil percobaannya, sebagai tambahan modal Fenny lalu menjual rumahnya yang letaknya stategis ditengah kompleks,l alu membeli rumah lain yang lebih murah dipojokan. Ia segera menggalang kerja sama dengan klinik dan salon salon kecantikan untuk memasarkan BH-nya. Karena segmen yang dipilih adalah BH utnuk kesehatan, rumah sakit dan klub-klub kesehatan pun ia masuki. Bahkan adik-adiknya yang menetap diluar negeri juga ia minta ikut memasarkannya.

Punya Darah Penjahit

Jiwa wiraswasta diwarisi Fenny dari ayahnya yang membuka bengkel kendaraan san ibunya yang membuka usaha konveksi. Meski usaha konveksi ibunya tidak besar, produknya berupa kain bordiran untuk seprei dan pakaian tidur dipasarkan hingga ke beberapa negara di Arab. Sejak kecil, semua saudara kandung Fenny yang berjumlah tujuh diwajibkan membantu kerja orangtuanya.

Pernah ketika kecil Fenny sangat menginginkan arloji yang ada rantainya, tetapi oleh ibunya ia malah dibelikan gelang. Sewaktu ia bertanya mengapa tidak dibelikan arloji, ibunya lalu menyuruhnya bekerja membantu menjahit bordir. “Pokoknya harus mau mengerjakan, kalau nggak bisa ya belajar sampai bisa,” kenang Fenny tentang pekerjaan membuat bordir.
Dari pekerjaan membuat bordir itu oleh ibunya Fenny diberi gaji yang kemudian bisa ia gunakan untuk membeli arloji. “Seperti itulah pendidikan yang diperkenalkan oleh mama saya,” tutur Fenny.
Kini dibantu oleh adik perempuan dan tiga karyawan, Fenny mamapu memproduksi lebih dari 100 pasang BH perbulan. Setengah dari hasil pekerjaan tangannya itu dikenakan oleh mereka yang bermasalah dengan payudaranya.

Anak keduanya, Naomi, yang masih berusia sembilan tahun rupanya sangat menaruh perhatian pada usaha yang dilakukannya. Setiap kali ia menerima pelanggan dan mengukur dadanya untuk dibuatkan BH, Naomi seperti tak mau ketinggalan ikut mendampinginya.
“Kasihan ya, Ma, tante itu dadanya sakit,” tutur Fenny menirukan komentar putrinya usai melihat dada seorang pelanggan yang masih diperban.

Fenny tak merasa terganggu dengan rasa ingin tahu anaknya yang begitu kuat. Justri sebaliknya, perempuan yang kini gemar menikmati keindahan anggerk di Taman Kota BSD, Tangerang, ini berpendapat, melalui pengalaman itu putrinya bsia memperoleh wawasan tentang kesehatan payudara, mengembangkan empati, sambil sekaligus belajar bisnis sejak dini.

Supaya Selalu Ingat

Dari gerakan pemasaran itu, kini Fenny punya gerai di Medan, Palembang, Jakarta, Surabaya, Malang, Madiun, dan Solo. Di jakarta saja ia punya beberapa gerai yang tersebar di sejumlah tempat. Pelanggannya tak cuma artis, istri pejabat, karyawati, dan ibu-ibu berpunya.”yang butuh BH ‘kan tidak hanya orang kaya,”ungkap Fenny. Disinilah istri Awie, pria asal Belitung ini sering berkompromi untuk tidak berbicara soal harga demi sesama wanita yang harus dipulihkan kembali rasa percaya dirinya usai menjalani operasi kanker payudara.

Menurut Fenny, diantara mereka yang ikut mengenakan BH buatannya saat ia melakukan uji coba memang terdapat sejumlah pasien kanker payudara. rata-rata payudara para pasien itu sudah tidakk utuh lagi karena operasi. Ada yang sudah rata sebelah, ada yang malah menjadi cekung ke dalam, ada pula yang dadanya rata sepenuhnya karena kedua payudaranya sudah diambil. “Jadi sejak awal memang sudah ada pasien kanker payudara yang saya libatkan,” papar Fenny tentang BH yang kemudian ia beri merek elling dengan harapan para pelanggan akan selalu elling (ingat) pada BH buatannya. Sebagai wanita rupanya Fenny percaya, perasaan seksi bisa meningkatkan rasa percaya diri wanita. Karena itu, melalui eksplorasi pembuatan pola dan pemilihan kain yang disesuaikan dengan bentuk dan ukuran¬† tubuh seseorang, ia berharap akan sanggup menyediakan bh yang mampu menegaskan keseksian seorang wanita.

Sejauh ini Fenny bersyukur karena upaya itu tampaknya tidak sia-sia. Menurutnya, banyak pelanggannya yang kini berani tampil percaya diri meski payudara sudah tidak utuh lagi. “Kadang ada yang datang memesan, ‘Fen, aku ingin tampil seksi, tolong buatkan yang gede.’ besoknya dia datang lagi karena mau ke kantor. mungkin malu kalau terlihat seksi, jadi minta dibuatkan yang agak kecil,” tuturnya tentang pelanggan BH-nya.

SUMBER

Waskito Trisnoadi JJ

Tabloid : Gaya Hidup Sehat
Edisi : 398/2-8 Maret 2007

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
0 Comments
0 Pings & Trackbacks

Leave a Reply


8 + = 12