Penjahit BH yang Bekerja Sama dengan Klinik

Berjuang dengan Label Lokal

Memakai breast holder atau penyangga payudara yang benar ternyata tak semudah yang dikira banyak orang. Butuh teknik tertentu menempatkan payudara di tempatnya dengan benar. Pemilihan BH yang tepat juga perlu dilakukan agar payudara tetap terjaga. Maka, jangan malu jika payudara harus diukur menggunakan meteran. “Setiap orang memiliki bentuk dan ukuran payudara berbeda-beda. Jadi, sangat spesifik. Itulah perlunya pengukuran supaya bra yang digunakan pas dengan kebutuhan,” tutur Fenny (39), pemilik usaha Elling Bra.

Proses pengukuran sangat penting bagi Fenny karena inilah yang membedakan produk penyangga payudara (breast holder/BH) buatannya dengan produk lain yang dijual di pasaran.

Untuk membuat BH yang bisa memperbaiki dan merawat bentuk payudara, Fenny menggunakan bahan katun tebal yang lentur. Bahan ini diyakininya lebih kuat untuk menyangga payudara dibandingkan dengan kawat. Oleh karena itulah BH produknya tidak memakai kawat. “Penggunaan kawat bisa membuat pemakai BH jadi enggak nyaman, bisa malah terasa sakit,” kata Fenny.

Bentuk BH produknya sekilas sama dengan BH lain yang dijual di pasaran. Menurut Fenny, yang membedakan adalah bahan yang dipakai sebagai tali BH. Fenny menggunakan bahan nilon yang tidak elastis. Tali yang tidak elastis dianggap mampu menahan payudara agar tidak melorot karena gravitasi.

Untuk mangkuk BH (tempat payudara), Fenny menghindari bahan busa karena iklim udara yang panas di Indonesia. Pemakaian busa justru dapat membuat pemakai BH berkeringat dan merasa gatal. Untuk mangkuk BH, Fenny menggunakan bahan nilon brokat yang sifatnya mudah menempel dan membungkus payudara dengan baik. Bahan brokat juga memungkinkan sirkulasi udara selama pemakaian BH.

Mangkuk BH juga bisa dibuka-tutup, seperti BH bagi ibu menyusui. Fungsi mangkuk buka-tutup ini untuk memudahkan jari-jari tangan menarik dan mengumpulkan jaringan payudara agar terkumpul di tengah.

Menurutnya, 80 persen perempuan memakai BH tidak sesuai ukuran secara keseluruhan. Pemakaian BH yang tidak pas, baik ukuran lingkar badan maupun mangkuk, bisa mengakibatkan jaringan penyusun payudara tak tertampung dalam mangkuk. Jaringan ini kemudian menyebar ke daerah sekitarnya, seperti di bawah ketiak, ke arah punggung, dan perut. Oleh karena itulah, Fenny juga mengajarkan cara memakai BH yang benar untuk pemakai produknya.

Belajar anatomi

anatomi-payudara Berawal dari kesulitan mendapatkan BH yang sesuai dengan bentuk tubuhnya yang kecil, Fenny memulai usaha Elling Bra tahun 1998.

Setelah melahirkan anak keduanya, Fenny tak berhasil mendapatkan BH yang pas. Kalaupun ada BH yang dirasakannya pas, harganya mencapai Rp 1-2 juta. Tidak tersedianya pilihan membuat Fenny membeli BH di pasaran dengan ukuran yang umum.

Rasa penasaran membuat perempuan yang bisa menjahit ini bereksperimen menciptakan BH sendiri. Ternyata BH buatan sendiri lebih memuaskan, Fenny merasa bentuk payudara bisa kembali seperti sebelum melahirkan. Melihat hasil itu, banyak saudara Fenny yang minta dijahitkan BH. Namun, hasilnya mengecewakan. BH yang dibuat Fenny untuk orang lain ternyata tidak pas dengan payudara orang tersebut.

“BH yang dibuat untuk saya bisa pas karena saya tahu betul bagaimana payudara saya,” cerita Fenny mengenang.

Sejak saat itu Fenny berkeinginan untuk belajar tentang payudara. Berbagai seminar kesehatan payudara dia ikuti. Dia juga banyak membaca buku tentang payudara dan belajar tentang payudara kepada dokter-dokter kenalannya.

Dari berbagai pengetahuan itulah, dia berkesimpulan bahwa bentuk payudara bisa dibenahi. Ini menginspirasi Fenny untuk membuat usaha produksi BH.

Setelah tahu tentang anatomi payudara, Fenny mulai mencoba membuat pola yang pas dengan payudara. Riset untuk membuat pola yang pas ini menghabiskan banyak uang dan waktu. Selama satu tahun lebih, Fenny membuat pola dengan berbagai bentuk payudara. Konsekuensinya, dia banyak melirik kiri-kanan untuk menemukan berbagai bentuk payudara.

“Saya pernah ngincer bentuk payudara tertentu. Saya pendekatan sama orangnya, menawarkan diri untuk menjahitkan BH untuknya,” kata Fenny. Demi eksperimen ini, Fenny jadi berkenalan dengan banyak orang.

Dipandang sebelah mata

one_eyeSetelah mampu membuat bermacam pola untuk berbagai bentuk payudara, Fenny mulai memasarkan BH produknya dengan cara “mengasong”. Fenny menjual BH ke tempat-tempat senam, sekolah, dan arisan. Namun, produk Fenny dipandang sebelah mata karena banyak ibu tak percaya BH buatan Fenny bisa memperbaiki bentuk payudara.

Apalagi Fenny memakai nama Elling untuk produknya. Menyandang nama Elling diakui Fenny sangat berat untuk menggaet pembeli. Menurut Fenny, dengan nama itu orang malas membeli BH tersebut karena tak percaya dengan kualitas produknya. “Nama Elling dianggap merek ndeso dan tidak komersial,” ucap Fenny.

Agar produknya laku, banyak orang menyarankan agar Fenny memakai label produk asing yang sudah populer atau merek yang berbau asing.

Saya sempat goyah. Namun, suami saya meyakinkan agar terus memakai nama Elling.

ujar Fenny.

Nama Elling diberikan oleh suami Fenny. Nama itu dipilih supaya orang selalu ingat dengan BH buatan Fenny. Dengan nama itu, Fenny juga mencoba mengingatkan agar setiap perempuan selalu memakai BH dengan benar.

Kerja Sama dengan Klinik

BH yang diproduksi Fenny memang tidak bisa ditemukan di pasaran maupun mal-mal. Elling, merek BH itu, memang tidak diproduksi massal. Orang mengenal produk ini antara lain dari pameran maupun “promosi” dari mulut ke mulut.

Biasanya orang yang ingin memakai BH buatan Fenny harus datang ke rumahnya atau ke klinik-klinik kecantikan. Seperti hendak menjahitkan baju, begitu datang, si pemesan harus lepas baju untuk diukur payudaranya. Pengukuran yang dilakukan terdiri atas pengukuran lingkar badan, jarak antara kedua payudara, serta jarak antara payudara dan ujung leher.

Setelah melakukan pengukuran, Fenny lalu menciptakan pola yang pas dengan bentuk payudara pemesan. Pola yang dibuat amat individual. Bentuk pola harus sesuai dengan anatomi tubuh dan payudara pemakainya. Agar bisa menciptakan pola yang proporsional, Fenny juga harus mengetahui tinggi badan dan berat badan orang tersebut. “Ini supaya bra yang dipakai bisa membentuk payudara yang sesuai dengan proporsi tubuh seseorang,” kata Fenny.

Produk Fenny justru dilirik para tenaga medis. Tahun 2000, Fenny bekerja sama dengan para tenaga medis. Kemudian dia bahkan lebih sering mendapat pesanan untuk membuatkan BH khusus bagi para penderita kanker payudara yang telah menjalani kemoterapi.

Berdasar pengalamannya, menurut Fenny, setelah menjalani kemoterapi biasanya payudara mengecil sehingga si pemakai memerlukan BH khusus. Meski payudara mengecil, dengan memakai BH yang tepat, payudara akan kembali terbentuk.

Klinik payudara

klinikProduk Fenny pertama kali digunakan oleh Jakarta Breast Centre, sebuah klinik di Jakarta Pusat.  Di klinik ini, Fenny memiliki banyak pelanggan yang umumnya adalah penderita kanker payudara. Oleh karena anatomi payudara berbeda-beda, Elling Bra memiliki banyak ukuran untuk para pembeli. Bahkan, Fenny mampu membuatkan BH dengan ukuran terbesar, yaitu mangkuk O. Untuk ibu hamil, Fenny membuatkan alat penyambung untuk kancing BH yang bisa disesuaikan dengan lingkar tubuh.

Fenny mengingatkan, idealnya perempuan harus mengukur payudaranya secara berkala. Untuk payudara normal, minimal satu tahun sekali payudara harus diukur. “Jadi, kalau ada perubahan bentuk, BH yang dipakai bisa disesuaikan,” kata Fenny yang membuka gerai di berbagai klinik kecantikan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Kediri, Madiun, Malang, dan Denpasar.

(LUSIANA INDRIASARI, KOMPAS)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
0 Comments
0 Pings & Trackbacks

Leave a Reply