Untuk Sukses Harus Jadi Direktur

  • fenny-untuk-sukses-harus-jadi-direktur-kompas

KOMPAS.com – Untuk menjadi sukses dan kaya, maka seseorang harus menjadi direktur, paling tidak untuk dirinya sendiri. Dari prinsip itulah, Fenny (42) rela meninggalkan posisi Purchasing Manager, di salah satu perusahaan swasta ternama. Ternyata pengorbanan ibu dua anak tersebut tak sia-sia, usaha pakaian dalam wanita custom made miliknya, saat ini semakin dikenal masyarakat, bahkan sampai merambah ke luar jawa.

Usaha tersebut, berawal dari kebutuhan dirinya sendiri. Ia merasa sulit untuk mendapat pakaian dalam yang benar-benar cocok dengan tubuhnya. Banyak merk yang ia coba, bahkan buatan luar negeri pun pernah ia kenakan, tetap saja wanita kelahiran Malang ini tidak puas. Ia pun membuka beberapa literatur dan mencoba menjahit pakaian bra untuk dirinya sendiri. “Ibu saya kan penjahit, jadi menjahit bukan hal yang baru lagi buat saya,” tutur dia.

Setelah hasil eksperimennya jadi, Feni menggunakan bra tersebut, beberapa temannya memuji hasil karyanya. Mereka pun memesan, tapi hasilnya tidak sebagus yang ia buat untuk dirinya. Ia mencari tahu penyebabnya, ternyata Feni tidak mengenal tubuh teman-temannya, sebaik ia mengenal tubuhnya sendiri.

Ia pun memperbaiki kesalahan-kesalahan, dan tahun 2000 Feni meluncurkan Elling Bra. Berbeda dengan bra ataupun pakaian dalam wanita yang banyak dijual, Elling Bra adalah custom made bra yang didesain dengan ukuran khusus sang pemakai.

Dalam merancang produknya, Feni juga tidak main-main. Berbagai riset ia lakukan, Feni menginginkan produk miliknya bukan hanya sekedar pakaian dalam wanita, tapi juga berfungsi untuk kesehatan dan memperindah payudara pemakaiannya. “Memakai bra itu harus ada target, bukan sekedar menutupi. Tapi harus ada kebutuhan dan kepentingan,” kata dia.

Untuk memakainya, juga digunakan teknik tertentu. Hal itu dimaksudkan agar jaringan payudara terkumpul dengan tepat dan menghasilkan bentuk yang diinginkan. “Setelah 4 bulan baru akan terlihat hasil, kulit disekitar menjadi lebih halus, ariola pun akan lembab. Setelah bulan ke dua belas, akan terbentuk dan 4 tahun bentuknya akan permanen,” terangnya.

Ia melanjutkan, produk miliknya juga dapat mengobati strechmark, mengecilkan dan membesarkan payudara, serta membantu para penderita scoliosis atau pun para penderita kanker payudara yang baru menjalani operasi.

Sering dihina

Perjalanan Feni untuk membesarkan usahanya bukan tanpa liku. Kerikil-kerikil tajam, kerap menghambat langkahnya. Pada waktu awal ia mengeluarkan produknya, Feni menawarkan dari satu tempat senam di tempat senam lainnya.

Pertama kali mengenalkan produknya, Fenny langsung mendapat hinaan. Merk Elling Bra dianggap sangat tidak berkelas. “Waktu itu banyak sekali yang bilang duh apa itu Elling Bra? Merk kok kaya gitu, buatan mana sih? Ga elit banget,” kenangnya.

Mendengar hinaan tersebut, Fenny hanya bisa menangis. Ia memang sengaja memilih nama Elling, dengan maksud produknya terus diingat.

Hinaan tidak hanya ditujukan pada merknya, para calon konsumen pun sering kali tidak percaya dengan kegunaan produk Feny. Mereka lebih percaya kepada buatan luar negeri yang harganya belasan juta. “Produk saya cuma Rp. 500 ribu sepasangnya, kalau buatan luar negeri bisa sampai belasan juta satu buahnya. Sempet juga terfikir untuk memahalkan produk saya, biar orang-orang lebih percaya. Tapi hal itu urung saya lakukan,” urainya seraya tersenyum mengingat masa lalunya itu.

Hinaan yang datang tersebut tak membuat Fenny memberhentikan usahanya, ia pun semakin giat melakukan riset. Ia tidak dapat menghitung lagi berapa dana yang ia keluarkan. Asalkan ada orang yang bersedia menggunakan produknya, Fenny pun merasa senang.

Tak hanya itu, jika terjadi kerusakan atau perubahan ukuran, Fenny pun bersedia memperbaikinya secara cuma-cuma. “Kalau mengecilkan atau ada yang sobek, itu gratis. Tapi kalau untuk pergantian cup dikenakan biaya Rp. 40.000,” terangnya.

Dengan servis tersebut, kepercayaan pelanggan mulai tumbuh. Sedikit demi sedikit pelanggan Elling Bra bertambah, beberapa publik figur dan istri pejabat pun menjadi pelanggan setianya. Umur mereka pun beragam, mulai dari usia 20an sampai 60an.

Fenny juga mempunyai distributor di beberapa daerah seperti Palembang, Lampung, Bandung, Surabaya, Bali, Surabaya, Semarang dan Blora. Distributor-distributor tersebut awalnya pelanggan Fenny, karena merasakan manfaatnya mereka pun berinisiatif untuk ikut memasarkan produknya.

Fenny membekali mereka dengan 60 ukuran dasar, dan pengetahuan mengenai cara mengukur yang benar. Namun jika ada kasus tertentu akan akan turun tangan sendiri. Distributornya akan mengirim gambar melalui email ataupun MMS dan Feny yang akan mengerjakan sendiri.

Setiap bulannya Fenny dibantu empat orang pegawainya mengerjakan lebih dari seratus pesanan. “Yah jumlahnya memang baru sedikit, tapi saya senang pelanggan yang sudah bertahun-tahun puas dengan produk saya. Lagi pula produk saya kan tahan lama, jadinya repeat ordernya lama juga,” terangnya seraya tertawa.

Saat ini Fenny melengkapi produknya dengan aneka jenis pakaian wanita, seperti pantysuit, longtorso, bustie yang kesemuanya custom made.

Walau sudah dikenal, Fenny belum berniat untuk mengekspor produknya. Ia lebih memilih untuk meyakinkan konsumen dalam negeri terlebih dahulu. “Kuatkan dulu pasar dalam negeri, sekalian menambah ilmu. Setelah makin pintar, baru kita jual ke luar. Kalau tidaka ada bekal yang cukup bisa kalah telak, wong produsen luar jauh lebih canggih,” ungkapnya bijak.

Ia juga berharap pemerintah lebih memperhatikan para pengusaha kecil mandiri seperti dirinya, agar dapat bersaing dengan produk luar negeri yang telah ternama. “Kualitas kita enggak kalah dengan buatan luar negeri, tapi masyarakat belum percaya itu. Semoga ada program pemerintah yang dapat memunculkan rasa percaya masyarakat pada produk dalam negeri sendiri,” pungkasnya.

SUMBER

oleh : Rosdianah Dewi
www.kompas.com
9 Juni 2009

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
0 Comments
0 Pings & Trackbacks

Leave a Reply